Mdnpedia.com – Ketua GAMKI Medan Boydo Panjaitan menyayangkan sikap pimpinan ormas yang mendesak pencopotan Kapolrestabes Medan, Kombes Jean Calvijn Simanjuntak.
Desakan itu sangat memalukan.
Sebagai kaum intelektual, desakan pencopotan harus disertai data dan fakta ‘rapor merah’ kinerja Kombes Jean Calvijn Simanjuntak
“Mereka marah karena Kapolres pimpin doa. Emang salahnya di mana?” ucap Boydo Panjaitan kepada Medan Pedia, 7 Maret 2026.
Kombes Jean Calvijn memimpin doa pada tanggal 26 Februari 2026, saat perwakilan massa ‘Tolak Surat Edaran Penataan Pedagang Daging Non-halal’ bertemu Wali Kota Rico Waas.
Videonya beredar di medsos dan malah dianggap memicu isu SARA.
Boydo menyebut inisiatif Kombes Jean Calvijn Simanjuntak seharusnya diapresiasi.
“Doa ini komunikasi kepada Tuhan. Siapa pun tak boleh melarang. Sikap Kapolres sangat menyejukan,” sambungnya.
Boydo mensinyalir desakan ini ditunggangi bandar narkoba dan mafia judi yang terusik karena keberadaan Kombes Jean Calvijn.
Kombes Jean Calvijn beberapa kali menggerebek lokasi perjudian dan narkoba.
Ia bahkan membongkar kartel terbesar di Sibolangit dan membakar rumah perjuduan yang dibangun bos mafia.
“Kita patut mempertanyakan, karena tidak ada alasan yang kongkrit untuk mencopot Kapolrestabes,” tambah Boydo Panjaitan.
Bukan Urusan Agama
Dukungan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) terhadap Surat Edaran Penataan Pedagang Non-halal yang diterbitkan Wali Kota Medan, Rico Waas, mendapat kritik dari GAMKI Medan.
Ketua GAMKI Medan Boydo Panjaitan menegaskan jika penataan pedagang bukan urusan FKUB.
Pemko Medan seharusnya mengundang pedagang daging babi daripada FKUB.
“Ini masalah ekonomi, kenapa ditarik ke FKUB? Seharusnya yang diundang ke Balai Kota itu pedagang, mereka yang berdampak langsung dengan surat edaran itu,” ucap Boydo Panjaitan kepada Medan Pedia, 25 Februari 2026.
Dukungan FKUB semakin memperkeruh kondisi di masyarakat.
Ia pun meminta FKUB turun ke lapangan, berdialog langsung dengan pedagang babi.
“Dengarkan keluhan mareka (pedagang). Jika mereka tidak berdagang yang dikhawatirkan bukan iman tapi siapa yang menyekolahkan anak-anak mereka,” sambungnya.
Disinggung soal pemindahan pedagang daging babi ke Pasar Petisah dan Sambu, Boydo Panjaitan sepenuhnya tidak setuju.
“Pasar-pasar itu seperti kuburan, siapa yang mau beli? sekalipun gratis lokasi itu tetap tidak layak,” tegasnya (MP-01)
MdnPedia.com Beri Pesan, Kesan dan Warna