Rakernas MPK di Tarutung, Tapanuli Utara, menetaskan beberapa fokus kerja, di antaranya kesejahteraan guru terutama di daerah tertinggal
MEDAN PEDIA – Kesempatan mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) masih menjadi tantangan bagi ribuan guru Kristen di Indonesia. Keterbatasan anggaran membuat tidak semua guru yang memenuhi persyaratan dapat mengakses program tersebut.
Kondisi ini menjadi perhatian Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama, Jeane Marie Tulung, saat menyampaikan paparan pada hari kedua Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V Majelis Pendidikan Kristen (MPK) di Indonesia, Jumat (16/10/2026), di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara.
Sebagai mantan guru agama Kristen, Jeane mengaku memahami berbagai tantangan yang dihadapi tenaga pendidik, terutama mereka yang mengajar di sekolah-sekolah Kristen di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Ia menegaskan, perjuangan untuk memperluas akses PPG dan memenuhi hak-hak guru akan terus dilakukan, meskipun dukungan anggaran masih terbatas.
“Kami memahami kondisi yang dihadapi para guru di sekolah-sekolah Kristen karena saya juga dulunya pernah menjadi guru agama Kristen. Berbagai upaya telah kami lakukan, tetapi hingga saat ini belum ada kepastian. Kami akan tetap berusaha agar anggaran tambahan tersebut dapat direalisasikan,” ujarnya.
Jeane menjelaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), DPR RI, serta pemerintah daerah untuk memperjuangkan dukungan anggaran.
Salah satu langkah yang didorong ialah mengalokasikan anggaran melalui APBD kabupaten dan kota agar semakin banyak guru yang memenuhi persyaratan dapat mengikuti PPG.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, sekitar 85.000 guru menjadi sasaran program. Namun, anggaran yang tersedia masih terbatas. Sementara itu, sekitar 7.000 guru telah dinyatakan lulus verifikasi berkas dan berpeluang mengikuti program tersebut.
Kondisi ini menunjukkan masih besarnya kebutuhan dukungan pemerintah agar para guru memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi dan profesionalitasnya.
“Kami akan terus memperjuangkan ketersediaan anggaran, termasuk melalui pengajuan anggaran tambahan ke APBD di beberapa daerah agar semakin banyak guru yang memenuhi persyaratan dapat mengikuti PPG,” katanya.
Bagi para guru, akses terhadap pendidikan profesi bukan sekadar kesempatan meningkatkan kemampuan mengajar, tetapi juga bagian penting dari upaya memperkuat profesionalitas dan memperjuangkan kesejahteraan tenaga pendidik.
Rakernas V MPK di Indonesia ditutup dengan ibadah bersama bertema Fructus in Altum Fide, yang bermakna berbuah dalam kedalaman iman. Ibadah yang mengangkat refleksi dari Kitab 1 Raja-raja 10:4–6 itu dilayani Pdt. Bambang Jonan.
Penutupan dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum Panitia, RE Nainggolan, Wakil Bupati Tapanuli Utara Deni Parlindungan Lumbantoruan, serta Ketua Umum MPK Indonesia, Handi Irawan, yang secara resmi menutup rangkaian Rakernas.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Konsul Kehormatan Republik Korea Parlindungan Purba, Pdt. Gomar Gultom, unsur Forkopimda Tapanuli Utara, pimpinan gereja dan lembaga keumatan Kristen, akademisi, serta jajaran panitia.
Berakhirnya Rakernas V MPK Indonesia di Tarutung diharapkan memperkuat kerja sama antara MPK, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mengembangkan pendidikan Kristen, termasuk memperluas akses pendidikan profesi dan mendorong peningkatan kesejahteraan guru di Indonesia. (MP-01)
MdnPedia.com Beri Pesan, Kesan dan Warna