Lamsihar Banjarnahor dan Istrinya, Julita Napitupulu, di Universitas Panca Budi Medan, 22 Juni 2026.

Lamsihar Banjarnahor ‘Buruh Cuci Piring dan Lulus S2 dengan IPK 4.0’

MEDAN PEDIA – Perjalanan hidup Lamsihar Banjarnahor menjadi bukti bahwa kerja keras, ketekunan, dan keberanian mampu mengubah nasib seseorang.

Pria asal Huta Bakara, Desa Marbun, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) ini meraih gelar Magister Teknologi Informasi (MTI) dari Universitas Panca Budi dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4.00.

Di balik capaian akademik yang membanggakan itu, tersimpan kisah perjuangan panjang dan tidak mudah.

Tahun 2010 menjadi titik awal perjuangan Lamsihar di Kota Medan.

Merantau dari kampung halaman dengan harapan memperbaiki masa depan, ia justru dihadapkan pada kerasnya kehidupan metropolitan.

Demi bertahan hidup, Lamsihar bekerja sebagai buruh cuci piring dengan upah hanya Rp15 ribu per hari.

Pekerjaan itu bukan sekadar melelahkan, tetapi juga menyakitkan secara fisik.

“Saya cuma sanggup kerja tiga bulan. Tangan saya melepuh karena setiap hari terkena sambal sisa piring kotor,” kenangnya.

Setelah meninggalkan pekerjaan tersebut, ia mencoba peruntungan di sebuah percetakan di kawasan Pintu I Universitas Sumatera Utara.

Di tempat itu, Lamsihar bekerja selama delapan tahun dengan penghasilan yang sangat terbatas, hanya Rp 150 ribu per bulan.

Namun, ia tidak melihat pekerjaan tersebut semata-mata dari sisi penghasilan.

“Gaji kecil, tapi di sini saya belajar desain percetakan dan komputer,” ujarnya.

Mengubah Hidup

Tahun 2018 menjadi momentum penting dalam hidupnya. Dengan keberanian yang besar, Lamsihar memutuskan keluar dari zona nyaman dan membangun usaha sendiri.

Ia menjual sepeda motor miliknya serta meminjam uang kepada sang abang, Jaendar Banjarnahor, sebagai modal awal membuka usaha percetakan.

Modal yang dimiliki saat itu hanya sekitar Rp 20 juta.

Namun, perjalanan bisnisnya tidak langsung berjalan mulus. Tiga bulan setelah usaha dimulai, masalah keuangan kembali menghampiri.

Di tengah kesulitan tersebut, bantuan datang dari kerabatnya, Androf Simamora, yang memberikan tambahan modal sebesar Rp 10 juta.

“Dana itu digunakan sebagai uang muka pembelian mesin fotokopi,” tutur Lamsihar Banjarnahor.

Lamsihar juga kembali memperoleh dukungan dari abangnya dengan pinjaman sebesar Rp 50 juta untuk membeli komputer dan printer.

Dari modal yang terbatas dan berbagai keterbatasan lainnya, ia terus berjuang mengembangkan usaha yang dirintisnya.

Kerja keras yang dilakukan selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil.

Delapan tahun setelah memulai usaha, Lamsihar kini telah memiliki tiga unit usaha percetakan yang beroperasi di sekitar kawasan kampus Universitas Sumatera Utara.

Kesuksesan tersebut tidak membuatnya berhenti belajar.

Di tengah kesibukannya sebagai pengusaha, ia tetap melanjutkan pendidikan hingga berhasil meraih gelar Magister Teknologi Informasi dengan nilai akademik yang sempurna.

Baginya, keberhasilan ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga pesan bagi siapa saja yang sedang berjuang menghadapi keterbatasan.

“Berada di posisi ini sangat luar biasa. Dari tahun 2010 sampai sekarang penuh perjuangan. Saya berharap kisah ini bisa memotivasi banyak orang untuk terus bekerja keras dan berani bermimpi besar,” katanya.

Meski telah berhasil meraih gelar magister dan sukses membangun usaha, mimpi Lamsihar belum berhenti sampai di sini.

Ia masih menyimpan cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral.

Lamsihar menyampaikan rasa terima kasih kepada para dosen yang telah membimbingnya selama menempuh pendidikan: Assoc. Prof. Dr. Zulham Sitorus, S.Kom., M.Kom, Dr. Muhammad Irfan Sarif, S.T., M.Kom, Assoc. Prof. Dr. Muhammad Syahputra Novelan, S,Kom., M.Kom.

Ucapan terima kasih juga ia sampaikan kepada sang istri, Julita Napitupulu, yang selalu mendampinginya dalam setiap proses perjuangan.

“Terlebih untuk istri tercinta yang selalu mendukung saya sampai saat ini,” tuturnya.

Kisah Lamsihar Banjarnahor menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah akhir dari segalanya.

Dari tangan yang pernah melepuh karena mencuci piring hingga meraih IPK 4.00 dan menjadi pengusaha sukses, ia membuktikan bahwa mimpi besar dapat diwujudkan oleh mereka yang tidak pernah menyerah. (MP-01)

One comment

  1. Lamsihar Banjarnahor

    Terimakasih MedanPedia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *