MEDAN PEDIA – Program Desa Binaan USU (Universitas Sumatera Utara) yang didanai LPPM USU mendorong penguatan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) di Desa Sidoharjo I Pasar Miring, Kecamatan Pagar Merbau, Kabupaten Deli Serdang.
Upaya tersebut dibahas melalui Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penguatan Manajemen Bencana Desa Berbasis Tata Kelola Bencana dan Komunikasi Risiko”, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan bersama Pemerintah Desa Sidoharjo I Pasar Miring itu diikuti 36 peserta dari unsur pemerintah desa, BPBD, BPD, masyarakat, pemuda, relawan, tokoh masyarakat, dan akademisi.
Ketua kegiatan, Dra. Februati Trimurni, M.Si., Ph.D., mengatakan FGD menjadi ruang untuk mempertemukan pengetahuan akademis dengan pengalaman masyarakat dalam menghadapi bencana.
“Sebagai akademisi, kami memahami teori dan konsep manajemen bencana. Namun, untuk memahami kondisi sebenarnya di lapangan, kami perlu mendengarkan pengalaman masyarakat. Melalui FGD ini, kami berharap dapat berbagi pengetahuan dan bersama-sama membangun kesiapsiagaan masyarakat,” ujar Februati.
Desa Sidoharjo I Pasar Miring, selaku desa binaan USU, terdiri dari 11 dusun dengan sekitar 1.650 kepala keluarga.
Sejumlah bencana yang pernah terjadi antara lain angin puting beliung, banjir, petir, dan angin kencang.
Kepala Desa Sidoharjo I Pasar Miring, Santoso, S.Sos., mengatakan DESTANA telah ditetapkan melalui surat keputusan, namun kapasitas relawan masih perlu diperkuat melalui pelatihan, simulasi, kejelasan tugas, serta dukungan sarana.
“DESTANA sudah ada dan sudah di-SK-kan. Harapannya, melalui diskusi ini DESTANA bisa benar-benar diperkuat dan menjadi tangguh,” kata Santoso.
Dalam penanganan awal bencana, kepala dusun menjadi pihak yang memantau kondisi lapangan. Informasi kemudian diverifikasi sebelum disampaikan kepada masyarakat melalui grup WhatsApp.
Pemerintah desa juga memberikan bantuan awal, seperti sembako, meski dukungan material dan perbaikan bangunan masih terbatas.
Kepala Pos 3 BPBD Deli Serdang, Muhammad Juliadi Basuki atau Bang Jeky, menilai relawan DESTANA perlu mendapat sosialisasi tugas pokok dan pelatihan tanggap darurat.
“Relawan DESTANA merupakan ujung tombak desa sebelum tim dari kabupaten tiba,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi respons pemerintah desa yang kerap lebih dahulu turun ke lapangan sebelum petugas BPBD datang melakukan verifikasi.
Sebagai wilayah dengan kawasan persawahan terbuka, desa didorong memperkuat mitigasi angin puting beliung melalui penanaman pohon pemecah angin, pemetaan wilayah rawan, penyiapan relawan, serta penyediaan dana darurat.
FGD yang difasilitasi Dr. Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si. dan Dr. Yovita Sabarina Sitepu, S.Sos., M.Si., turut membahas pembagian peran dalam evakuasi, penanganan kelompok rentan, logistik, pendataan, komunikasi risiko, hingga koordinasi antarpihak.
Hasil diskusi menunjukkan sosialisasi DESTANA belum menjangkau seluruh dusun dan relawan masih membutuhkan pelatihan. Kebutuhan lain meliputi atribut relawan, genset, gergaji mesin, serta peralatan pertukangan untuk mendukung penanganan darurat.
Manajemen bencana juga diharapkan menjadi prioritas desa melalui penyusunan Dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) sebagai dasar pemetaan ancaman, kerentanan, kapasitas, kebutuhan peralatan, dan program pengurangan risiko bencana.
“Jika ada hal yang dapat dibantu USU dalam penguatan DESTANA, kami siap mendiskusikannya bersama BPBD dan pemerintah desa,” tutup Februati. (MP-01)
MdnPedia.com Beri Pesan, Kesan dan Warna